Kelola Limbah Tambak dengan IPAL Agar Berkelanjutan

Pengelolaan limbah melalui IPAL dalam industri tambak udang adalah langkah krusial untuk mencapai keberlanjutan

by Sakti Biru Indonesia • Published on August 30, 2025

Pengelolaan limbah merupakan suatu upaya untuk memastikan bahwa limbah yang dihasilkan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. Dalam konteks tambak udang, hal ini menjadi semakin krusial mengingat limbah yang dihasilkan, baik cair maupun padat, dapat mencemari ekosistem jika tidak dikelola dengan baik. Salah satu solusi yang efektif adalah menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dirancang khusus untuk menangani limbah dari kegiatan budidaya udang.

Menurut Andi Tamsil, pada saat acara sarasehan Shrimp Club Indonesia (SCI) Jawa Barat Bantenn, IPAL berfungsi untuk mengolah limbah melalui tiga tahap: fisik, biologi, dan kimia. Pada tahap fisik, proses dilakukan untuk mengurangi padatan tersuspensi dalam air limbah. Ini dilakukan dengan menggunakan kolam sedimentasi, di mana air limbah dibiarkan mengendap sehingga padatan dapat terpisah. Tahap kedua adalah biologi, di mana limbah organik diurai oleh mikroorganisme, membantu mengurangi dampak negatif dari limbah tersebut. Terakhir, tahap kimia berfungsi untuk membunuh mikroorganisme patogen yang dapat membahayakan kesehatan.

Jenis-jenis Limbah Tambak Udang

Limbah dari kegiatan tambak udang dapat dibedakan menjadi beberapa kategori. Limbah cair terdiri dari air kolam budidaya, baik saat pembuangan harian maupun saat panen, serta air dari tandon pengendapan yang dihasilkan saat pengurasan. Sementara itu, limbah padat meliputi Total Suspended Solids (TSS) dari air kolam dan sludge atau lumpur yang terkumpul di dasar kolam. Selain itu, terdapat produk samping seperti cangkang udang yang dihasilkan selama proses molting, serta bangkai udang yang muncul akibat kegagalan molting atau penyakit. Limbah domestik juga berkontribusi, mencakup kegiatan MCK, laboratorium, dan sampah kemasan.

Karakteristik limbah cair dan padat dari budidaya udang, seperti TSS di air kolam dan lumpur di dasar kolam, berpotensi menjadi pupuk untuk akuaponik dan pertanian. Limbah cair (air kolam) mengandung nutrien seperti nitrogen, fosfor, bahan organik, dan protein sel tunggal (PST) dari plankton dan mikroba, serta mineral dari garam. Konsentrasi nutrien bervariasi tergantung metode budidaya:

   1. Sistem plankton (sering ganti air): TSS, BOD/COD, nitrogen, dan fosfor rendah.
   2. Sistem bioflok (sedikit ganti air): TSS, BOD/COD, nitrogen, dan fosfor tinggi.
   3. Sistem RAS (air bersih): TSS, BOD/COD, nitrogen, dan fosfor sangat rendah.

Sementara limbah badat, merupakan merupakan limbah utama kegiatan budidaya yang teridiri dari yang terdiri dari endapan di dasar kolam seperti feces udang dan detritus plankton, harus ditangani dengan baik agar dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Proses Pengolahan di IPAL

Pengolahan dimulai di kolam sedimentasi, yang berfungsi sebagai tahap awal untuk mengurangi padatan tersuspensi melalui pengendapan. Kolam ini dirancang bersekat-sekat untuk memperlambat arus air dan memperpanjang waktu alir, sehingga partikel padat dapat mengendap dengan efektif.

Selanjutnya, kolam aerasi berperan penting dalam meningkatkan kadar oksigen terlarut. Proses aerasi ini menurunkan Biological Oxygen Demand (BOD), menaikkan pH air, serta membuang gas-gas terlarut seperti CO2 dan H2S. Dengan meningkatkan kualitas air, kolam aerasi berkontribusi pada keberhasilan pengolahan limbah.

Kolam ekualisasi berfungsi sebagai penampungan air buangan sebelum dilepas ke lingkungan. Di kolam ini, rumput laut dan ikan dipelihara sebagai bioindikator. Rumput laut menyerap nutrien yang berlebihan dan mengubahnya menjadi biomassa yang dapat dipanen. Keberadaan ikan di kolam ekualisasi menjadi indikator penting; jika ikan hidup dengan baik, itu menunjukkan bahwa air hasil olahan layak untuk organisme hidup.

Proses terakhir dalam pengolahan limbah adalah pengumpulan lumpur dari kolam sedimentasi. Wadah penampungan lumpur berfungsi untuk mengeringkan lumpur atau sedimen sebelum diolah lebih lanjut. Pengelolaan lumpur ini penting untuk mengurangi dampak lingkungan dan meminimalkan limbah.

Kesimpulan

Pengelolaan limbah yang efektif tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan tetapi juga mendukung keberlanjutan usaha budidaya udang. Dengan menerapkan sistem IPAL yang baik, para peternak dapat memastikan bahwa air limbah yang dihasilkan tidak mencemari sumber daya air di sekitarnya. Selain itu, penggunaan kembali air hasil olahan juga dapat mengurangi kebutuhan akan sumber air baru, yang sangat penting di tengah meningkatnya kebutuhan akan air bersih.

Secara keseluruhan, pengelolaan limbah melalui IPAL dalam industri tambak udang adalah langkah krusial untuk mencapai keberlanjutan. Dengan sistem yang tepat, kita dapat menjaga kualitas lingkungan dan memastikan bahwa kegiatan budidaya udang dapat terus berlangsung tanpa merusak ekosistem. Oleh karena itu, penting bagi para pelaku industri untuk terus berinovasi dan mengimplementasikan teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan.


 

author

Sakti Biru Indonesia

Shrimp Aquaculture Company